SEJARAH DESA PUNAN MIRAU

1778169872611.jpeg

LATAR BELAKANG DAN SEJARAH DESA PUNAN MIRAU DARI TAHUN 1721 – 2015.

​A. KISAH AWAL NAMA SUNGAI MIRAU, SUNGAI NIT DAN SUNGAI RAN.

​Nama MIRAU adalah nama yang diambil dari sebuah legenda atau cerita dari nenek moyang Suku Punan yang mana tinggal di sungai Ran dan Sungai Mirau, yang pada awalnya nama sungai mirau adalah sungai Antung diubah menjadi sungai Mirau atau Nirau (menangis/meratapi).

​Konon ceritanya, pada zaman dahulu jumlah penduduk masyarakat Desa Punan waktu itu berkisar 300-400 Kepala Keluarga (KK) dan jumlah jiwanya diperkirakan mencapai 3000-5300 jiwa. Tepatnya di sungai Sibau cabang sungai mirau, selama berada di sungai sibau penduduknya semakin hari semakin berkurang khususnya para laki-laki punan pada saat itu sering berburu atau yang mencari hasil hutan lainnya pergi tidak pernah kembali. Begitu terus menerus hingga menimbulkan rasa kecemasan yang sangat luar biasa. Apalagi melihat penduduk yang hilang semakin bertambah dan tidak ada kabar, berita, hingga pada suatu hari ada seorang tokoh masyarakat atau salah satu dari laki-laki punan saat itu sangat heran dan penasaran sekali melihat situasi itu.

​Dengan diam-diam dia pergi berburu mencari tahu apa penyebabnya sehingga setiap orang yang pergi berburu tidak pernah kembali. Laki-laki punan itu jalan menyusuri hutan, tiba-tiba dia menemukan bekas kaki binatang yang sangat besar. Setelah diperhatikan baik-baik ternyata bekas kaki binatang itu rupanya bekas kaki babi hutan tapi bekasnya sangat besar, tidak seperti bekas babi hutan pada umumnya. Orang punan itu bertanya dalam hatinya "babi seperti apa ini..?" namun dia semakin penasaran ingin melihat binatang itu. Akhirnya dia mengikuti jejak binatang itu ke arah selatan sedangkan bekas binatang itu datang dari utara tepatnya di gunung Kanci (Gunung Gendruo) tiba di hulu sungai buang (cabang sungai Hong).

​Dia mendengar ada suara seperti suara manusia, ada juga suara anjing menggonggong disertai suara binatang buas yang kedengaran seram sekali. Lalu laki-laki punan itu pergi mengintai suara itu dari dekat dan ternyata apa yang dilihatnya sungguh sangat tidak masuk akal dan sangat menakutkan. Ternyata bekas jejak kaki babi yang diikutinya dari tadi itu memang betul-betul babi, tapi memiliki postur badan yang sangat besar. Panjang badan babi itu kira-kira empat meter lebih dan tingginya sekitar 2-3 meter lebih. Yang lebih menakutkan, mata babi itu berwarna merah menyala seperti bola api.

​Lalu orang punan itu pun melihat apa yang dimakan babi itu ternyata manusia. Babi itu memotong-motong tubuh manusia itu dan menelannya, tidak hanya manusianya yang dimakan tapi anjing-anjing manusia itu pun habis dimakan babi itu. Karena laki-laki punan ini takut keberadaannya diketahui oleh binatang buas itu (babi besar), akhirnya dia pulang sampai di kampung dia memanggil semua masyarakat, tokoh-tokoh masyarakat dan tua-tua suku punan untuk berkumpul mengadakan pertemuan. Setelah semua berkumpul, lalu laki-laki punan itu menceritakan kejadian yang dilihatnya. Ternyata misteri hilangnya penduduk yang selama ini rupanya dimakan binatang buas yang menjelma serupa babi. Teka-teki selama ini telah terjawab.

​Lalu mereka membuat anyaman berbentuk bola dari sibu rotan dan mengantungnya di bawah jembatan, tujuannya ialah untuk mengelabui babi itu. Apabila babi datang maka anyaman sibu rotan itu dibakar dan bila babi itu melihat nyala api itu maka akan menjadi marah dan memakan bola api itu.

​Setelah semuanya dipersiapkan, lalu dipilihlah salah satu orang yang dipercayakan untuk pergi memburu babi besar itu. Lalu ditunjuklah salah satu laki-laki punan yang disebut Adu A’ang namanya. Lalu Adu A’ang itu pergi mudik sungai Sibau tembus di pematang tepatnya di hulu sungai Buang. Di situ anjing Adu A’ang ketemu dengan babi besar tersebut lalu tembus dan turun ke sungai Sibau terus ikut sungai Sibau sampai di kuala Sibau tempat di mana telah dibuat jembatan sebelumnya dan anyaman dari sibu rotan itu. Mendengar suara anjing Adu A’ang sudah mau dekat, semua para laki-laki punan bersiap-siap jaga di jembatan tersebut. Dari jauh sudah nampak babi besar itu datang ke arah jembatan itu lalu bola anyaman yang terbuat dari sibu rotan itu tadi dinyalakan.

​Begitu babi besar itu melihat ada nyala api dia semakin marah dan langsung memakan dan mengoyak bola-bola api tersebut. Sementara itu semua orang yang berjaga di atas jembatan itu menombang babi besar itu hingga mati. Senyum lega terpapar di benak mereka karena apa yang ditakutkan selama ini sudah mati dibunuh, dan sangking senang bercampur masih marah karena babi itulah penyebabnya hingga mereka harus kehilangan orang-orang yang sangat mereka sayangi, baik itu suami, anak mereka menjadi korban kebuasan babi besar itu. Lalu babi besar itu pun dibagi-bagikan ke seluruh penduduk untuk dimasak dan dimakan. Malam itu mereka berpesta merayakan kemenangan sambil makan daging babi itu, tapi sayang nasib naas bukan sampai di situ nasib masih berkata lain.

​Keesokan harinya semua kelihatan ceriah dan penuh sukacita setelah matinya babi besar yang selama ini mengusik ketenangan penduduk. Pada suatu hari ada seorang nenek bersama seorang cucunya tinggal di kuala sungai Tana sebelah hilirnya sungai Sibau sekitar 300 meter. Suatu sore sekitar pukul 06.00 nenek itu mendengar ada suara tangisan, lalu nenek itu mencari tahu asal suara tangisan itu. Ternyata suara itu berasal dari seekor burung yang menyerupai burung nggang yang ada di atas pohon. Sambil menangis dia berkata dalam bahasa latin (daerah) katanya: "Huk Hu ke kow belekukun, inta nuh lun ulung kuu lengenun". Artinya: "Aku bertanya padamu burung belekukun, karena apa binatang piaraanku sepi tak kembali...?" Jawab burung belekukun itu: "Piaraanmu itu sudah mati dibunuh oleh orang-orang punan itu.....!"

​Mendengar itu dia menjadi marah dan bersumpah katanya: "Semua orang yang telah membunuh babiku dan yang memakannya akan mati seperti babi itu juga." Lalu dia bersumpah lagi: "Mulai hari ini aku mengubah nama sungai ini sungai MIRAU/NIRAU dan sungai yang sebelah kanan ini kunamakan sungai NIT dan sungai RAN." Yang artinya MIRAU adalah menangis, meratap karena setiap hari masyarakat mati dan ditangisi. Sedangkan NIT artinya Kulit Manusia bahwa sepanjang sungai itu kulit dan tulang-tulang manusia berserakan berhaburan di mana-mana dan RAN artinya ialah bergelimpangan yang artinya mayat-mayat manusia di sepanjang sungai ran itu.

​B. Latar Belakang dan Asal usul Desa

​Nama Desa Mirau diambil dari nama salah satu sungai cabang sungai ran yaitu sungai Mirau. Mayoritas suku adalah suku Punan sehingga disebut Punan Mirau (Desa Punan Mirau) yang tinggal di daerah aliran sungai Mirau, sungai Nit dan sungai Ran sejak zaman nenek moyang. Pada zaman dahulu kehidupan masyarakat punan Mirau selalu hidup berkelompok dan sering berpindah-pindah. Kadang di sungai Mirau kadang pindah di sungai Ran dan kadang di sungai Nit. Faktor penyebab tidak menetap dan sering pindahnya masyarakat punan mirau pada waktu itu dikarenakan adanya perang antara suku atau yang disebut ngayau/mengayau (mengambil kepala), atau karena faktor lain seperti wabah penyakit sehingga sering berpindah lokasi atau mencari tempat baru.

​Jumlah penduduk atau masyarakat Punan Mirau pada waktu itu diperkirakan mencapai 3000-3300 jiwa dan jumlah Kepala Keluarga (KK) diperkirakan mencapai 200-270 Kepala Keluarga (KK). Namun jumlah itu berkurang dan hampir punah karena wabah penyakit yang berasal dari satu babi. Konon ceritanya pada waktu itu ada seekor babi hutan berbadan sangat besar ukurannya tidak seperti ukuran babi pada umumnya. Diperkirakan panjang babi tersebut kira-kira empat sampai lima meter lebih dan tingginya sekitar dua sampai tiga meter. Babi itu dibunuh lantaran sering memakan orang yang pergi berburu di hutan. Sehingga babi tersebut dibunuh lalu dagingnya dibagi-bagikan ke seluruh penduduk dan memakan daging itu. Dari itulah awalnya wabah penyakit melanda seluruh penduduk dan setiap orang yang makan dari daging babi itu akan mengalami muntahber (Kolera) lalu meninggal begitu terus setiap hari.

​Silsilah asal-usul keturunan punan mirau berasal dari Ipu Likun, kemudian Ipu Likun mempernakan Incau Iwa, Incau Iwa memperanakan Ading Incau, Ading Incau memperanakan Alang Ading, Alang Ading memperanakan Usat Alang.

​Pada tahun 1721 Desa Punan Mirau dipimpin oleh Usat Alang yang tinggal di antara sungai Mirau dengan sungai Ran. Kurang lebih 95 tahun Usat Alang memimpin suku punan Mirau dan akhirnya pada tahun 1816 meninggal dunia. Kemudian kepemimpinan diganti oleh Alang Ading hampir selama 10 tahun dan akhirnya meninggal dunia pada tahun 1826.

​Selanjutnya suku punan Mirau dipimpin oleh Alang Usat (Man Antang) selama 15 tahun kemudian pindah di Tabau Nyopuh selama kurang lebih 10 tahun. Kemudian pindah lagi dari Tabau Nyopuh ke Kentat Birai selama 5 tahun, ke sungai Mukung (Ran) selama 5 tahun di sinilah Alang Usat meninggal dunia pada tahun 1866. Kemudian dilanjutkan oleh Ayu Incau dari tahun 1943 s/d tahun 1948; kemudian Punan Mirau pindah lagi di sungai Tawang sungai ran hilir dipimpin oleh Alang Incau pada tahun 1955 sampai tahun 1970.

​Kemudian pada tahun 1970 masyarakat punan mirau turun lagi pindah sungai tawang ke Laban Nyarit yang dipimpin oleh Alang Incau sampai pada tahun 1973. Alang Incau resmi menjadi Kepala Desa Punan Mirau sampai tahun 1999. Incau Alang mencapai akhir masa tugasnya, diganti oleh Kepala Desa terpilih yaitu Tangga Alang pada tanggal 5 Juni 1999 bergabung di lokasi Desa Laban Nyarit sampai pada tahun 2005. Akhirnya Tangga Alang mencapai akhir masa jabatan pada tahun 2005 lalu dia... (teks terpotong)

​Nama Desa pun diambil dari sungai mirau yang mana sebelumnya Punan Ran diubah menjadi Punan Mirau pada saat itu sehingga separuh dari penduduk Punan Mirau yang tersisah dari kejadian ialah yang mendiami Desa Punan Mirau sampai saat ini. Dan cerita dari legenda ini dijadikan sejarah turun temurun hingga sampai sekarang.

​Demikian Ringkasan sejarah Desa Punan Mirau kami buat, mohon maaf bila ada pengetikan dan bahasa yang tidak sesuai dengan alur cerita. Komentar dan saran untuk perbaikan yang baik selalu kami harapkan.

​Terima Kasih.

Bagikan post ini: